Kamis, 05 Februari 2009

Filosofi dan Sejarah Save Our Sea

Save Our Sea Community

Sebuah kisah tidak pernah berawal dari suatu ketiadaan. Akan ada sesuatu yang membangun kisah itu. Demikianlah awal mula dari terbentuknya Save Our Sea. Berawal dari semakin renggangnya hubungan antara manusia dengan lingkungan pesisir pantai, serta semakin menipisnya kepekaan manusia akan kondisi pesisir pantai yang semakin kritis, membuat komunitas ini akhirnya memulai untuk bermimpi, mimpi supaya pesisir pantai kita menjadi tersenyum kembali.
Save Our Sea merupakan sebuah komunitas yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Lingkungan hidup yang dimaksud adalah pesisir pantai di kawasan Pantai Selatan, seperti Pantai Parangtritis dan Pantai Depok.
Berawal dari kesenangan mengunjungi pantai tua kami setiap bulannya, semakin lama kami semakin memperhatikan bahwa pantai kami tidak sebersih dulu. Dulu pantai kami hanya putih, itu saja. Tetapi, semakin mendekati usia senjanya, pantai kami semakin meriah. Kemeriahan itu bukanlah suatu penghargaan bagi pantai tua kami, tetapi lebih kepada penghinaan akan dia. Kemeriahan itu diisi dengan sampah plastik, botol bekas, bahkan (maaf) popok bayi. Kadangkala sampah itu berasal dari limbah rumah tangga yang terbawa oleh aliran sungai yang menuju pantai. Sehingga pantai kami yang seharusnya hanya putih itu, menjadi lebih ‘ceria’. ‘Keceriaan’ yang muram. Bahkan ombak pun ikut merasakan duka dari pantai kami. Mereka seakan mengerti, sehingga berusaha membawa sampah-sampah itu ke dalam palung-palung mereka. Tetapi usaha mereka tentu saja tidak cukup, sehingga kami pun berusaha ikut membantu mereka. Sehingga dimulailah kebiasaan kami, yang setiap bulannya pergi ke pantai tua kami dan mengumpulkan sampah-sampah itu untuk membersihkan pantai tua kami. Kami yang hanya berlima merasa bahwa itu saja tidak cukup. Perlu adaya pergerakan yang lebih progresif mengingat pentingnya ekosistem pantai tua kami, sehingga kami mulai mengajak masyarakat di sana untuk turut ikut merawat pantai tua itu.
Pada bulan Agustus tahun 2008, kami pun mulai memikirkan suatu cara untuk membangun mimpi kami supaya lebih kokoh. Maka lahirlah Save Our Sea, komunitas lingkungan kami. Saat ini, kami sudah menjalankan beberapa program untuk merawat pantai tua kami. Seperti pembersihan pantai secara terus-menerus dan berkelanjutan, serta penyuluhan kepada masyarakat dengan pembagian stiker. Pada akhirnya nanti, kami juga akan berupaya untuk mereduksi pengguna plastik dan mengganti dengan bahan lain yang lebih ramah lingkungan. Nama Save Our Sea pun kami pilih karena beberapa alasan, pertama, Save Our Sea (SOS) merupakan suatu simbol tentang meminta pertolongan dengan sangat segera, mengingat kritisnya keadaan korban yang tidak dapat ditolerir. Kami ingin mengindikasikan bahwa pantai tua itu memang benar-benar meminta tolong dengan segera, secepatnnya tanpa menunda lagi. Kedua, Save Our Sea memiliki pesan yang jelas, yang dapat dengan mudah dipahami oleh setiap masyarakat tentang penyelamatan pantai kami. Bagaimanapun juga, laut memiliki kesetiakawanan yang tinggi terhadap pantai tua kami, sehingga laut pun akan ikut merasakan dampak yang negatif dari adanya sampah di pantai tua itu. Sampah yang berada di pantai akan terbawa oleh ombak yang ‘mampir’ mengunjungi pantai tua kami. Sampah itu kemudian akan mengotori laut dan memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi ekosistem laut. Ketiga, Save Our Sea merupakan suatu upaya persuasif kami kepada masyarakat untuk turut menjaga kebersihan dan kewibawan pantai tua kami, sehingga sebutan dari pantai tua kami di mana hanya kami yang merasa memiliki pantai tua itu menjadi pantai tua kita.
Kami ingin mimpi kami ini nyata, tidak hanya pada waktu malam, tetapi juga pada waktu kita sama-sama terjaga. Mari kita ke pantai tua kita itu, Pantai Parangtritis dan Pantai Depok. Kita buka telinga dan mencoba mendengar, apa yang akan diperdengarkan kepada kita. Kami harap itu bukan tangis.....dari pantai tua itu.
Jaga kebersihan pantai tua kita selalu....!!!

Salam akrab selalu
Save Our Sea Community

Tidak ada komentar:

Posting Komentar